Popular Posts

 photo fgr_zpsa263fa65.gif
Welcome to visit website the Voice of Watikam, Progressive, Militant, Patriotic for a Free and Independent West Papua Nation-State
Tampilkan postingan dengan label Kejahatan TNI-POLRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejahatan TNI-POLRI. Tampilkan semua postingan

Empat Hal Utama, Penyebab Konflik Berlarut di Papua Barat

Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta Watikam Crew

Empat Hal Utama, Penyebab Konflik Berlarut di Papua Barat

Road Papua
JAKARTA Voice Baptist- Konflik di tanah Papua seperti tidak ada habisnya.  Selain konflik horizontal antar warga sipil, konflik vertikal yang terjadi antara pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua juga telah memakan banyak korban".

"Sampai saat ini tidak ada niat baik dari Pemerintah untuk mencari solusi terbaik untuk mengakhiri konflik di papua, Pemerintah terkesan tidak serius dan membiarkan konflik berlarut".

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, konflik berkepanjangan ini disebabkan oleh empat hal.

"Pertama, gagalnya otonomi khusus terutama pembangunan di bidang kesejahteraan ekonomi, kesehatan dan pendidikan," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Papua: Konflik Dari Masa ke Masa', di Bakoel Coffe, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2013).

Kedua, imbuh Hasanuddin, konflik disebabkan oleh adanya diskriminasi dan marjinalisasi terhadap masyarakat asli Papua.

"Ketiga, adanya perasaan traumatis dari sebagian warga Papua sebagai akibat tindakan represif aparat masa lalu, yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, namun tidak diusut secara tuntas."

"Dan terakhir, masih terdapatnya perbedaan persepsi tentang terintegrasinya Papua ke dalam wilayah NKRI melalui Pepera 1969," ungkapnya.

Aktivis gereja kutuk aksi pembunuhan di Papua

Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta Watikam Crew

Aktivis gereja kutuk aksi pembunuhan di Papua

DONI HAGABAL Korban Area Freeport
Watikam Voice, Timika -  Gereja Katolik Keuskupan Timika, Papua, mengecam aksi kekerasan dan pembunuhan yang terus terjadi di wilayah itu akhir-akhir ini.

Dikutip dari Antara, Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika Amandus Rahadat Pr di Timika mengatakan, kekerasan berupa pembantaian dua warga di Sempan, Timika yang bertepatan dengan perayaan Jumat Agung (29/3) lalu memalukan.

Apalagi dua kelompok yang bertikai saat itu sesama warga Suku Kei yang dulu merintis agama Katolik masuk ke wilayah Mimika dan Papua.

"Kelakuan orang Kei di Sempan sangat memalukan," kata Pastor Amandus.

Amandus merasa prihatin dengan semakin brutalnya orang Kei di Timika. Sejumlah warga Kei sempat terlibat dalam beberapa kasus penyerangan warga Suku Kamoro di Nawaripi. Pemicu bentrok antar kelompok sepele, balas dendam bentrok sebelumnya sesama pendulang di Kali Kabur (Sungai Aijkwa) yang menewaskan enam warga dan.

"Saya sangat prihatin. Orang-orang tua Kei di kubur pasti menangis. Dulu orang Kei bawa Injil, kedamaian dan kehidupan di tanah ini. Sekarang orang Kei bawa perang, bentrok dan kematian ke tanah ini," ujar Pastor Amandus.

Dia mengatakan seharusnya orang Kei di Mimika merasa malu dengan berbagai kelakuan mereka selama ini yang sering meresahkan masyarakat.

Kecaman serupa disampaikan Pastor Dekan Mimika-Agimuga yang juga merupakan Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan, Pastor Willem Warat Bungan OFM.

Menurut Pastor Willem, umat Katolik di Timika masih banyak yang hidup dalam alam kegelapan. Terbukti dengan masih terus terjadinya aksi kekerasan dan pembunuhan.

"Kita umat di Sempan menciptakan Golgota baru. Oknum-oknum suku Kei telah mencoreng muka, nama baik dan jasa-jasa para perintis yang membuka daerah Mimika-Agimuga," kecam Pastor Willem.

Tokoh umat Katolik Sempan John Rettob menjelaskan, rangkaian perayaan Paskah 2013 di Sempan dan Timika umumnya telah dirusak oleh sekelompok orang Kei melalui aksi kekerasan pembantaian, pembunuhan dan pembakaran rumah warga.

Lebih ironis lagi, kata John Rettob, kejadian itu hanya beberapa meter di luar gedung Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan.

"Ini perbuatan sangat memalukan. Katanya mereka orang Katolik, tetapi perbuatan mereka biadab. Kita sendiri yang menodai perayaan Paskah," kecam John Rettob.

Sebagai orang Kei kelahiran Kamoro, John Rettob mengaku sangat malu karena para orang tua yang dulunya datang dari Kei ke Mimika untuk membawa Injil tetapi saat ini generasi muda Kei datang membawa malapetaka, bencana dan kekacauan di Timika.

John sepakat dengan Ketua Ikatan Keluarga Kei di Mimika Piet Rafra agar melakukan pendataan kembali warga Kei yang tidak memiliki pekerjaan tetap agar segera dipulangkan ke kampung asal mereka di Maluku Tenggara.

Meski kondisi keamanan di Timika sudah membaik namun sejumlah aparat kepolisian dari Brimob Detasemen B Polda Papua masih terus disiagakan di kawasan Jalan Busiri Sempan dengan senjata lengkap untuk mengantisipasi terulangnya kembali bentrok sesama warga suku Kei.
This Source: http://www.merdeka.com/

Fakta : LAGI-LAGI MILITER INDONESIA MENEMBAK MATI SEORANG GADIA DI YAHUKIMO

MILITER INDONESIA LAGI-LAGI MENEMBAK MATI SEORANG GADIA DI YAHUKIMO

Yahukimonews: pada senin, 14 Juli 2014 di Yahukimo seorang gadis di temukan tewas di dekat kantor komisi pemilihan umum daerah (KPUD) Yahukimo. Kabak, salah seorang warga yang juga keponakan (Baca : Mama Ade) korban, membenarkan hal itu. Kabak yang dihubungi via ponselnya pada sore itu, kepada yalivoice kabak menjelaskan, pada sore hari (13/7) korban keluar rumah, hingga pagi. Sudah larut malam, kami tidak cari lagi. Korban juga belum punya handphon sehingga mau hubungi dia susa. Jelanya.
Pada 14 juli 2014, penemuan sosok gadis ditemukan di dekat kantor KPUD yahukimo. Kantor tersebut jaraknya sekitar tiga (3) kilo dari rumah korban. Korban sendiri tinggal di pemukiman jalur satu, dekai.
Polisi dari satuan polres yahukimo evakuasi jasad korban hingga di rumah sakit umum daerah dekai. Ribuan orang datang menyaksikan korban yang terkuyur darah. Saat penemuan mayat, keluarga korban maupun seluruh warga dekai sulit memastikan korban. Hal itu dikarenakan korban adalah orang baru turun dari pedalaman yahukinmo. Korban baru bebera hari di dekai. Jelasnya.

TNI TEMBAK WARGA SIVIL DI PUNCAK JAYA DENGAN DALIH TEMBAK TPN-OPM

TNI TEMBAK WARGA SIVIL DI PUNCAK JAYA DENGAN DALIH TEMBAK TPN-OPM TERBUKTI KEKERASAN BANGSA INDONESIA.

Star-Papua, Bukti kejahatan Aparat Keamanan Indonesia terhadap Orang Asli Papua di seluruh Tanah Papua, dapat dilihat dari fakta rekayasa penembakan oleh TNI & Polri terhadap warga civil dengan dalih menembak Anggota TPN-OPM.

Fakta ini terbukti dari Document rahasia militer, yang terungkap secara sadar atas berkat campur tangan Tuhan. Fakta kebiadaban TNI/POLRI ini terungkap untuk menyatakan kebenaran bahwa di Papua telah dan sedang terjadi Genocide, terhadap orang asli Papua oleh Aparat Keamanan Pemerintah Colonial Republik Indonesia.

Kami perlu sampaikan kepada komunitas Internasional bahwa Indonesia adalah Negara Pelanggar HAM dan Pelanggar perjanjian Internasional, yang terutama tentang pelarangan Genocide berdasarkan Kovenan Internasional atas Hak-Hak Civil dan Politik.

Laporan ini adalah yang berdasarkan fakta, dimana jelas-jelas TNI dari Batalyon 753 Nabire merekayasa penembakan dan pembunuhan. Artinya, TNI menembak Mati Masyarakat civil atas Nama WENDIMAN WONDA, dan kemudian menaruh megasain dan tiga butir peluruh di tubuh korban, yang seakan-akan bahwa Wendiman Wonda adalah anggota TPN-OPM, yang memiliki Megasain dan Amunisi.

Hal ini adalah tindakan keji Aparat Keamanan Indonesia, terhadap orang asli Papua dari tahun 1963 hingga kini. Dan tindakan biadab Aparat TNI/POLRI ini telah dan sedang berjalan terus hingga kini kapan berakhirnya? Tidak tentu.

Oleh karena itu, kami Activis Independence Papua mohon kepada Komunitas Internasional, yang terutama kepada Komisi Tinggi HAM PBB dengan semua jaringan kerja HAM Internasional untuk mendesak Sekjen PBB, agar Sekjen PBB harus serius dengan pelanggaran HAM di Papua, yang dihadapi oleh Orang Asli Papua.
Nama Korban : Wendiman Wonda
Umur : 48 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Bekerjaan : Petani
Almat : Kampung Moul, Kelurahan Yambi, Distrik Mulia,
Kabupaten Puncak Jaya
Lokasi Penembakan : Wuyuneri, Kab. Puncak Jaya, Mmulia
Pelaku : Satuan Batalyon 753 Nabire Papua
Waktu Penembakan : Dilakukan pagi hari pada 27 November tahun 2010

Notes:

Ini adalah salah satu contoh dan bukti atas kejahatan Aparat Keamanan Indonesia, dari yang belum terungkap selama dari tahun 1963 hingga kini. Indonesia telah dan sedang melakukan Genocide terhadap orang Asli Papua di Papua Barat sampai saat ini.

Pesan:

Mohon perhatian Internasional atas situasi pelanggaran HAM di Papua, yang tiada akhirnya ini.

Demikian, laporan ini kami sampaikan kepada Komunitas Internasional di seluruh Dunia. Terima kasih atas perhatian serta tindakan nyata Anda, untuk menyelamatkan bangsa Papua Barat dari pemusnahan.

 WPNLA 2013

FREEDOM WEST PAPUA

       MELITER NKRI MENEBAK WARGA SIPIL WEST PAPUA

MELITER NKRI MENEBAK WARGA SIPIL

MELITER NKRI MENEBAK WARGA SIPIL

MELITER NKRI MENEBAK WARGA SIPIL

MELITER NKRI MENEBAK WARGA SIPIL

MELITER NKRI MENEBAK WARGA SIPIL       

 Sumber:http://www.facebook.com/photo.php?fbid=143301032503741&set=pcb.143301339170377&type=1&permPage=1